- James C. Georges -
Seorang pemimpin tanpa pengikut adalah absurd. Karena pada intinya pemimpin punya peran dan pengakuan dari orang-orang yang mereka pimpin. Tentunya tidak mudah untuk menjadi pemimpin ketika dia harus mampu mempengaruhi anak buah melakukan apa yang dikatakan atau diinginkan. Nah, perlu trik yang jitu untuk mampu mempengaruhi orang lain. Dalam pekerjaan sepertinya persoalan menjadi lebih mudah karena semua bergerak karena sistem.
Pemimpin dalam perusahaan tinggal mengkontrol berjalan sistem. Tetapi ada faktor lain yang turut mempengaruhi kepemimpinan, sisi kemanusiaan karena semua penggerak sistem adalah manusia. “Kepemimpinan itu bagi saya adalah sebuah proses melayani,” ujar Novita Mahanani Ekaningsih, Manajer pengembangan sumber daya manusia PT Servier Indonesia. Sebuah perusahaan multi nasional yang bergerak di bidang farmasi namun menitik beratkan pada riset. Hingga saat ini sudah berada di 140 negara hanya dalam waktu 50 tahun.
Banyak pemimpin yang mengedepankan sisi kemanusiaan dalam memimpin. Kuncinya pengaruhi sisi psikologi dan bangun empati karena pada gilirannya ikatan emosional pun akan tumbuh. Dimata Novita, demikian dia biasa disapa, manajer bagus cukup banyak tersedia tetapi sedikit yang menjadi pemimpin. Hal itu tentu menghambat sistem berjalan. Perempuan kelahiran 36 tahun silam ini cukup kenyang dengan pengalaman di berbagai perusahaan. Lulus dari Institut Pertanian Bogor, Novita segera tertambat di perusahaan farmasi. Karirnya dimulai dari bawah sehingga dirinya cukup banyak berkaca dari pengalaman.
Keramahannya dan memandang semua orang sebagai manusia yang harus diperlakukan dengan baik menjadi salah satu modalnya memimpin. Tak heran dirinya mampu menghempas batas atasan-bawahan. Berikut obrolan LeadershipPark dengan ibu dua anak ini di kantornya siang itu.
Dalam pandangan Anda bagaimana kepemimpinan itu?
kepemimpinan buat saya adalah ‘melayani’, membantu orang lain untuk menjadi lebih baik, dan membantu orang lain menjadi pemimpin-pemimpin baru. Menjadi pemimpin yang tentunya tidak mesti menduduki posisi manajerial di perusahaan. Tetapi dia mampu membangun visi dengan melihat jauh ke depan dan tidak hanya mempertimbangkan kondisi saat ini. Buat saya, hal ini juga tidak identik dengan ‘good guy’ karena sering kali membantu orang lain. Tetapi kadang-kadang orang juga akan mempersepsikan kita sebagai ‘bad guy’, tough, mengoyak zona kenyamanan yang selama ini mereka nikmati.
Hal ini karena bisa saja ketika orang lain memiliki visi maka dia bertindak diluar budaya saat ini. Itu yang saya sebut mengoyak zona kenyamanan (status quo). Kepemimpinan buat saya juga berarti walk the talk karena jika kita meminta orang lain melakukan sesuatu, sementara kita sendiri tidak melakukannya, orang lain tidak akan percaya lagi apapun yang kita katakan. Intinya seorang pemimpin harus menjadi perubahan itu sendiri. Bukan “I am making the change” tetapi “I am part of the change”, dan menjadi partner bagi orang lain untuk melakukan perubahan yang diinginkan.
Bagaimana terapan kepemimpinan dalam perusahaan?
Mungkin ini karakter orang Indonesia yang masih banyak “sungkan”. Merasa tidak nyaman jika orang lain menyebut dirinya berbeda dengan norma yang ada. Diangggap merubah apa yang sudah dianut selama bertahun-tahun karena itu dia dianggap sebagai pemberontak.
Yang saya amati, kita punya banyak manajer bagus, tapi kurang pemimpin. Sehingga masih sering terjadi orang mixed up bahwa menjadi manajer yang baik sudah berarti menjadi pemimpin yang baik. Banyak yang merasa bahwa berbeda pendapat dengan atasan adalah sebuah ’dosa’, dan sebaliknya juga masih banyak atasan yang berpikir bahwa subordinat yang berbeda pendapat dengannya ’tidak loyal’ dan menjadi tidak favorable. Masih banyak juga yang sudah menduduki posisi tinggi namun masih memiliki mental ingin ’dilayani’ dan bukan ’melayani’ orang lain.
Kendala apa saja yang Anda rasakan sewaktu menerapkan kepemimpinan?
Kecenderungan orang untuk enggan keluar dari zona nyaman yang sudah dinikmati selama bertahun-tahun, padahal kondisi lingkungan mengharuskan yang bersangkutan keluar dari zona nyaman tersebut. ( Memang, kenyamanan membuat orang cenderung malas mencari tantangan baru. Seolah puas dengan apa yang sudah didapatkan. Padahal tantangan cenderung membuat orang lebih matang dalam berpikir dan bertindak. Tentu saja tidak selalu dalam bentuk materi.
Tantangan baru cenderung mengasah orang menjadi pribadi yang tangguh. Sayangnya tidak sedikit orang muda yang lekas puas pada apa yang sudah didapat hari ini. Hal ini yang menjadi kendala Novita membangun gagasan yang jauh kedepan.
Anda berada dalam usia yang cukup muda untuk posisi sekarang dan berada dalam peek performa. Bagaimana meraih sukses sampai jenjang sekarang?
Intinya ada “passion”. Saya dalam melakukan apapun selalu saya kerjakan dengan mengalir mengikuti alur kehidupan. Walaupun kadang-kadang prosesnya ‘menyakitkan’ ketika sedang menjalaninya, namun itu membuat saya mengerti rasanya ketika kita sedang berkembang. Dan ketika saya sudah melaluinya saya merasa lega ketika setiap proses terlewati.
Saya memulai karir saya dari bawah, menjadi Medical Representative yang merupakan ujung tombak sebuah perusahaan Farmasi. Sosok yang langsung berinteraksi dengan costumer utama, yaitu dokter. Disitu saya ditantang untuk mampu meyakinkan mereka menggunakan produk yang ditemukan oleh perusahaan. Dari area sales saya kemudian pindah ke area training dan bergabung dengan team sales training. Beberapa tahun bergelut disana lalu beralih lagi ke training untuk non sales function. Setelah itu beralih ke Human Resources (HR) dengan mulai di training development, rekrutmen, organization development, lalu menjadi HR generalis sampai sekarang.
Bagaimana persaingan untuk meraih jenjang tinggi dalam organisasi perusahaan?
Saat ini makin banyaknya orang muda yang semakin cerdas dan semakin berani mengekspresikan dirinya. Mereka tidak lagi takut meninggalkan zona nyaman. Tentu saja dengan demikian persaingan menjadi semakin ketat. Satu hal sebenarnya, bahwa kita harus tahu kapan kita siap secara emosional untuk posisi yang lebih tinggi pada suatu perusahaan.
Banyak orang yang tidak sabar dan menggunakan segala cara untuk posisi yang lebih tinggi. Padahal dia belum tentu siap atau bahkan kapasitas emosinya tidak cukup untuk posisi tersebut. Akibatnya yang sering saya temukan adalah stress yang tidak ada henti, kinerja yang tidak seperti diharapkan dan pada akhirnya merugikan yang bersangkutan. Karena dia tidak bisa melangkah mundur.
Anda punya inspirator dan falsafah dalam hidup?
Mungkin sedikit ”ajaib” bagi kebanyakan orang, karena inspirator saya hanya TUHAN. Dia sangat kreatif dan mengejutkan. Bayangkan, Dia mampu ”memaksa” ciptaan-NYA untuk berubah dan mengikuti apa yang diubahNYA. Saya juga bukan megalomania atau mengidap God syndrome. Hanya saja dalam perjalanan hidup saya menemukan inspirator melalui perjalanan yang tidak mudah. sedangkan falsafah hidup yaitu “I don’t know what will happen, I only know that I must be brave”. Itu saya pegang sejak remaja dan entah dari siapa.
Punya target masa depan?
Hanya satu harapan pribadi saya yaitu bahwa di setiap tempat di mana saya berada, saya membantu orang lain menjadi lebih baik, karena dengan itu paling tidak saya sudah menjadi manusia yang baik.
Sumber www.leadership-park.com/new/
0 komentar:
Post a Comment